Resesi Membayangi akibat Pandemi, Ini Tips Kelola Keuangan dari Ekonom

Jum'at | 02 Oktober 2020


Resesi Membayangi akibat Pandemi, Ini Tips Kelola Keuangan dari Ekonom

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 diperkirakan kembali negatif alias masuk ke zona resesi sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pada kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi diproyeksi minus 2,9 persen hingga minus 1,0 persen. Angka ini direvisi dari proyeksi sebelumnya minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani mengatakan pendapatan masyarakat turun secara keseluruhan selama masa pandemi, sehingga membutuhkan sistem pengelolaan keuangan pribadi atau keluarga yang konservatif.

"Tahun memang sangat berat. Secara general pola pengaturan keuangan yang konservatif dan lebih teliti pada tahun ini sangat diperlukan," katanya.

Dia memaparkan kelompok masyarakat yang mendapat tekanan paling besar adalah masyarakat kelas menengah bawah, yang pendapatannya bisa turun hingga 2 persen.

Kelompok ini, menurutnya harus mulai teliti dalam menyusun semua anggaran dan lebih fokus hanya pada belanja primer. Semua jenis cicilan berat khususnya kredit pemilikan rumah, harus secara proaktif meminta pihak perbankan untuk restrukturisasi.

Jika hal tersebut masih belum dapat meringankan, solusi subsidi gaji dari pemerintah dapat menjadi pilihan untuk dapat menambal defisit anggaran tahun ini.

Menurutnya, penting juga untuk tidak terlalu mengandalkan pinjaman jangka pendek seperti kartu kredit atau bahkan dari fintech yang bunganya tinggi.

"Justru akan lebih baik jika kelompok ini sadar dan mulai berwirausaha, dan memanfaatkan KUR. Bagaimana pun peluang usaha masih tetap ada selama masa pandemi. Ini justru bisa menjadi solusi paling ampuh untuk menutupi pendapatan yang turun, bahkan setelah masa pandemi," imbuhnya.

Sementara itu, untuk kelas masyarakat kelas menengah atas yang pendapatannya masih tumbuh meski tipis tetap dapat melanjutkan kebiasaan menabungnya.

Hanya saja, instrumen tabungan atau investasi harus tetap harus sesuai dengan kebutuhan konsumsi salama periode pandemi.

Jika tidak ada rencana untuk melakukan konsumsi besar tabungan dapat dialihkan ke simpanan berjangka yang bunganya berkisar 4,5 persen per tahun.

"Bahkan jika prediksi tentang idle money masih besar, maka penempatan pada surat utang negara bisa jadi lebih relevan. Atau bisa memilih instrumen di pasar modal, yang mana banyak saham perusahaan bagus sedang diskon," imbuhnya.

 

Sumber: bisnis.com
 


 Kembali