7 Kesalahan Ini Sering Terjadi dalam Perencanaan Keuangan

Selasa | 27 Agustus 2019


Bisnis.com, JAKARTA – Perencanaan merupakan satu kunci penting dalam menjalani kehidupan.Dengan membuat rencana, kita jadi tahu apa yang perlu dilakukan dan tidak, dalam upaya mencapai tujuan yang diinginkan. Begitu juga dengan perencanaan keuangan. Hal ini untuk mengatur semaksimal mungkin anggaran yang dimiliki.

Namun, tak sedikit orang yang nyatanya mengatur keuangan hanya ala kadarnya, sehingga hasil yang didapatkan tidak cukup optimal. Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi kesalahan dasar dalam perencanaan keuangan.

  1. Tidak Memiliki Bujet Anggaran

Perencana keuangan sekaligus pendiri layanan Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan bahwa kebanyakan orang saat ini sama sekali tidak memiliki bujet anggaran keuangan.

Menurutnya, hal tersebut dikarenakan anggapan tentang menyusun anggaran belanja untuk diri sendiri merupakan kegiatan yang ribet, sulit, dan tidak penting. Padahal, keberadaan bujet anggaran dapat memudahkan mereka untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki rencana keuangan ke depannya sehingga menjadi lebih sehat.

  1. Tidak Memprioritaskan Pengeluaran Yang Penting

Melvin menuturkan bahwa mayoritas orang saat ini juga cenderung kurang memerhatikan prioritas dalam hal pengeluaran. Padahal, seharusnya setiap orang tahu apa yang penting bagi mereka dan menyisihkan dananya sejak awal ketika menerima pemasukan.

“Pengeluaran penting ini termasuk biaya kebutuhan bulanan dan beberapa hal lain yang setiap orang pasti punya prioritas sendiri-sendiri. Misalnya dana pendidikan, asuransi atau apapun itu,” ujarnya.

  1. Membeli Tanpa Perencanaan

Perencana keuangan dari OneShildt Financial Planning Budi Raharjo menambahkan bahwa kesalahan umum dalam perencanaan keuangan yang banyak dilakukan masyarakat adalah membeli tanpa rencana.

Setelah membuat rencana keuangan, kita dituntut untuk sebisa mungkin tidak keluar dari jalur yang telah disusun sedemikian rupa.

Budi menyampaikan daripada membeli langsung sesuatu di luar rencana keuangan, lebih baik ditahan terlebih dahulu dan dianggarkan pada bujet selanjutnya.

Hal ini sangat positif, sebab tidak hanya mencegah kekacauan bujet yang telah dibuat, tetapi juga memikirkan kembali apakah perlu membelanjakan uang untuk barang atau keperluan tertentu.

  1. Pengeluaran Yang Bersifat Keinginan

Hal ini menjadi masalah yang sangat banyak dilakukan dan menjadi salah satu penyebab utama bocornya perencanaan keuangan.

Budi menuturkan bahwa bukan tidak boleh membeli sesuatu yang sifatnya keinginan. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya bila hal tersebut bisa ditekan sedemikian mungkin. “Keinginan kan beda dengan kebutuhan. Boleh saja belanja yang diinginkan tetapi lihat bujet juga masih bisa ditangani atau enggak?” katanya.

  1. Berutang Tidak Proporsional

Utang memang merupakan salah satu cara mendapatkan dana tambahan untuk keperluan tertentu, tetapi berutang secara berlebihan bisa menimbulkan dampak yang berkepanjangan.

Budi memaparkan bahwa jumlah utang tidak boleh lebih dari 50% total aset yang dimiliki saat ini. Selain itu, cicilan utang juga sebaiknya hanya berkisar antara 20%—30% dari total pendapatan bulanan. Porsi yang lebih besar tentu saja digunakan untuk keperluan penting bulanan.

  1. Tidak Punya Dana Darurat

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan menimpa kehidupan, bisa jadi ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi sehingga diperlukan dana darurat. Budi menyampaikan idealnya dana simpanan darurat mencapai 3--6 kali pengeluaran bulanan.

  1. Takut Dalam Berinvestasi

Salah satu permasalahan masyarakat Indonesia terkait perencanaan keuangan adalah minimnya pengetahuan akan investasi. Akibatnya, hal ini akan terus tentunda realisasinya atau bahkan tidak dijalankan sama sekali.

Melvin menyampaikan memang diperlukan usaha lebih untuk paham mengenai investasi. Namun demikian, hal tersebut akan sangat berdampak baik dalam keuangan kita pada masa mendatang. Menurutnya, investasi harus dilakukan sedini mungkin misalnya dengan menyisihkan minimal 10% pendapatan untuk itu.

“Jenis investasi ada banyak. Tipnya, ketahui dulu apa tujuan investasi yang kita lakukan baru cari instrumen yang tepat, apakah obligasi, reksa dana, emas, atau yang lainnya,” katanya.

Terlepas dari kesalahan dalam perencanaan keuangan yang disebutkan di atas, baik Melvin maupun Budi menyampaikan, perencanaan dan implementasi keuangan harus dilakukan dengan komitmen yang kuat.

Ada banyak hambatan yang akan menghadang, tetapi cobalah konsisten untuk memastikan kondisi keuangan yang sehat dan kehidupan yang lebih baik.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali
SIMULASI KREDIT


LINKS