Mengubah Kompetisi Menjadi Kolaborasi

Senin | 18 Maret 2019


Bisnis.com, JAKARTA — Terkadang, saya tersenyum geli mendengar kalau ada yang menyebut ekonomi Indonesia sedang melambat, atau banyak gerai ritel yang tutup karena sudah sepi pembeli.

Satu sisi, Anda saat sedang bekerja di kantor, sesekali mengintip marketplace milik Tokopedia, Bukalapak, Blibli, dan lainnya. Ada juga yang ngintip Traveloka, cari-cari tiket penerbangan yang super murah.

Bahkan, sekarang muncul kebiasaan belanja kebutuhan rumah tangga, gula pasir, susu formula, atau apapun, cukup pesan secara online.

Hampir setiap perusahaan sekarang memiliki konsep digital seperti klikindomaret.com atau iLotte.com. mereka mungkin sudah punya inisiatif online itu sejak 5 tahun lalu. Tapi ibarat adonan kue bantet tidak berkembang.  

Satu hal yang pasti,  Indonesia ini secara geografi bukan seperti Amerika atau China.  Tepatnya Indonesia ini ibarat dari London ke Istanbul melalui beberapa pulau dan beberapa negara-negara.  Jaraknya sangat jauh. 

Bahkan, beberapa penerbangan tidak ada yang direct. Sehingga dari zaman kompeni sudah ada yang disebut jaringan PBF atau jaringan kosmetik Hong Kong.  Mereka mengumpulkan grosir-grosir lintas beberapa generasi menjadi rantai utang distributor.  Inilah kuncinya.  

Sehingga yang disebut satu perusahaan pun itu terdiri dari jaringan ratusan grosir pedagang di pasar.  Mereka disebut pasar induk.  Pusat grosir. 

Jadi kuncinya adalah bagaimana caranya memberdayakan network jaringan seratusan grosir ini se-Indonesia menjadi serentak.  Tentu tidak mudah.  

Apalagi sejarah puluhan tahun hubungan interaksi antara principal - distributor - cabang - sub distributor - grosir ini pun mengalami barier masing-masing. Mereka tidak terbuka satu dan lainnya. 

Satu yang mereka rahasiakan adalah list customer dan credit line masing-masing customer.  Inilah bedanya perusahaan konglomerat saat ini dibandingkan dengan perusahaan unicorn.  

Bayangkan perusahaan Gojek mampu memberikan voucher diskon kepada 20 juta pelanggannya serentak tidak peduli Anda di Ambon atau Manado. 

Selama puluhan tahun rahasia credit line customers ini menjadi wangsit rahasia.  Karena rahasia maka masing-masing merasa itu sebagai privasi.  Misalnya Anda tanya kepada grosir siapa saja pelanggan mereka?  Wah Anda bisa dianggap seperti menanyakan soal anak gadisnya.  

Demikian bilamana Anda tidak menjalani pengalaman keliling Indonesia Anda tidak tahu Betapa bedanya karakter budaya di Lubuk linggau,  Tebing tinggi,  Bukit tinggi apalagi Gorontalo. 

Anda coba belanja palawija di NTT lalu Anda pikir bebas dibawa ke Surabaya,  Anda bisa kaget tiba-tiba di kapal kok ada razia narkoba.  Entah kenapa.  Harus ada satu rahasia alasan kenapa mereka harus menyerahkan data customer credit line mereka kepada principal?  

Maka seperti kata Al Ries dan Jack Trout ahli strategi marketing, untuk bisa mengalahkan musuh harus dicari titik kekuatan nya dan menyerang titik kekuatan tersebut.

Melakukan transformasi e-commerce itu seperti ibarat Anda ingin menyatukan antara Indomaret dengan Alfamart.  Tidak cukup disitu Anda diminta menyatukan Indomaret dengan Indomarco.  Wah.  Siapa yang berkuasa sedemikian besar selain Tuhan YME.  Itulah yang dilakukan oleh Steve Jobs.  Dia bisa menyatukan industri musik menjadi digital.  

Inilah juga menjadi jawaban mengapa ekonomi Tiongkok menjulang tinggi menjadi terbesar di dunia.  Karena mereka mampu melakukan sinergi antara kompetisi menjadi kolaborasi.  Mereka tidak mengenal individualisme. 

Konsep lama kapitalis adalah masing-masing individual memikirkan unit bisnis masing-masing. Selain itu efek kapitalis adalah pembagian tugas.  Akibatnya setelah enam puluhan tahun semuanya sibuk dengan spesialisasi tugasnya. 

Masing-masing terpaku kepada job description.  Bilamana Anda ingin merobohkan tembok itu hanya ada satu kata yaitu percuma.  Sedangkan Alibaba mampu menyatukan seluruh Tiongkok dalam satu domain.  

Perusahaan unicorn mampu memiliki otot yang menggerakkan puluhan juta driver Gojek menjadi satu unit.  Sekaligus mereka memiliki elektronik money payment gateway sehingga mempermudah transaksi.  Bahkan untuk membeli sekedar gado-gado driver Gojek mampu menalangi pembayaran di muka.  Baru kemudian menagih kepada Anda.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali
SIMULASI KREDIT


LINKS