Saat Kesejahteraan di Tangan Perempuan

Senin | 29 Oktober 2018


Perempuan bak menteri keuangan dalam keluarga. Pengelolaan keuangan dalam keluarga menjadi tanggung jawab mereka. Di tangan perempuan, uang bulanan yang diterima dari para suami disalurkan untuk keperluan seperti sekolah anak, membayar kontrakan, ataupun kebutuhan keseharian lainnya.

Jadi, perempuan dapat dikatakan sebagai critical economic player di Indonesia, mengingat banyak keputusan ekonomi penting mulai dari tingkat keluarga, lingkungan, hingga negara diputuskan oleh seorang perempuan.

Sayangnya, hasil Survei Nasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2016 menunjukan tingkat literasi dan inklusi keuangan pada perempuan masih rendah, yaitu sebesar 25,5% dan 66,2% atau lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki sebesar 33,2% dan 69,6%.

Direktur Eksekutif Departemen Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional Bank Indonesia Pungky P. Wibawa mengatakan, perempuan telah menjadi salah satu sasaran utama untuk peningkatan akses keuangan sebagaimana tercantum dalam Strategi Nasional Inkluisf  (SNKI).

“Peningkatan akses perempuan kepada lembaga keuangan formal yang dibarengi dengan peningkatan edukasi keuangan, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga,” kata Pungky.

Dia memaparkan berdasarkan Global Financial Inclusion Index 2018 Bank Indonesia, sebanyak 49% orang dewasa telah memiliki rekening di institusi keuangan formal. Permpuan memiliki pemahaman keuangan yang lebih tinggi dan penyikapan keuangan yang lebih baik, dibandingkan dengan laki-laki.

Pungky mengatakan peluang akses wanita terhadap keuangan sangat tinggi. Sebanyak 39% wanita di Indonesia ingin membuka usaha. hal itu tercermin dengan adanya peningkatan wirausaha wanita dari 14,3 juta orang menjadi 16,3 juta orang. Jumlah pelaku UMKM sebanyak 52 juta, sebanyak 60% UMKM tersebut dijalankan oleh wanita.

Meskipun peluang tinggi, lanjutnya perempuan memiliki sejulah kendala seperti terbatasnya akses keuangan menyebabkan perempuan Indonesia mengandalkan anggota keluarga sebagai sumber keuangan, terbatasnya mobilitas perempuan menyebabkan usaha dan kepemilikian usaha formal bergeser pada laki-laki, serta minimnya pengetahuan dan kepercayaan diri akan pengelolaan keungangan.

“Karena itu akses keuangan dan pemberdayaan ekonomi untuk wanita Indonesia belum optimal,” katanya.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, perempuan Malaysia ada di peringkat ketujuh tertinggi dari 27 negara di Asia dalam hal pengelolaan dana. Kebiasaan menabung antara perempuan dan laki-laki di Malaysia cukup setara, yakni 47% dan 46%.

Dari setiap pengeluaran bulanan, laki-laki di Malaysia lebih besar mengelokasikan dana untuk menabung dari pada perempuan Malaysia, laki-laki 30% lebih besar dari perempuan Malaysia.

Dari sisi perencanaan keuangan, sebanyak 32% laki-laki Malaysia memiliki perencanaan, dan 28% perempuan Malaysia yang memiliki perencanaan. Angka tersebut tidak terlalu jauh perbedaannya.

Sementara itu, tingkat melek finansial perempuan  di Indonesia masih perlu didorong. Untuk itu, salah satu upaya upaya aktif Bank Indonesia antara lain melalui insiatif Gerakan Nasional Non Tunai (GNTT) yang sudah dicanangkan sejak 2014, program penyaluran bantuan non tunai, serta perluasan agen bank dan program pemberdayaan wanita.

 

INVESTOR PEREMPUAN

Selain itu, akses informasi terhadap investasi kini terbuka lebar. Melalui teknologi, perempuan Indonesia diajak semakin pintar mengenal investasi secara lebih cermat.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat dalam 4 tahun terakhir pertumbuhan jumlah investor perempuan mencapai 965%. Dengan kata lain pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan investor laki-laki. Sedangkan pertumbuhan jumlah investor laki-laki dalam 4 tahun terakhir hanya 71% menjadi 629.115 investor. Saat ini, total investor perempuan di pasar modal mencapai sekitar 476.772 orang.

Independent Wealth Management Advisor FX Iwan menuturkan tingginya angka kenaikan jumlah investor perempuan saat ini menunjukkan sinyal positif bagi perkembangan investasi di kalangan perempuan. Dia mengatakan banyak studi menunjukkan bahwa sesungguhnya perempuan lebih pintar dalam berinvestasi ketimbang laki-laki.

“Didukung oleh beberapa sifat alamiah yang dimiliki oleh perempuan, sifat keibuan yang ternyata memberikan pengaruh terhadap perilaku investasi perempuan,” ujarnya.

Iwan yang juga Founder and Managing Partner Jagartha Advisors menambahkan, faktor psikologis yang dimiliki oleh perempuan justru dapat membantu mereka untuk lebih sukses dalam berinvestasi dibanding laki-laki. Menurut Iwan ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal itu. 

Perempuan, kata Iwan, bersabar untuk hasil yang lebih besar. Dia menuturkan frekuensi investor perempuan melakukan trading instrumen investasi lebih sedikit daripada investor laki-laki. Sebab investor laki-laki umumnya memiliki kepercayaan diri berlebihan terhadap kemampuan mereka menganalisa investasi. Semakin percaya diri seorang investor, semakin banyak frekuensi trading yang mungkin dilakukan.

“Laki-laki cenderung memperdagangkan 45% lebih banyak dari investor perempuan. Perempuan dapat menyikapi hal ini dengan lebih tenang dan cenderung memilih bertahan untuk menghindari risiko yang lebih besar,” ujarnya.

Iwan mengatakan, investor perempuan lebih disiplin dalam menjalankan rencana investasi sehingga mereka memiliki risk-adjusted return yang lebih kuat daripada investor laki-laki.

Faktor lainnya, Iwan mengamati perempuan tak bosan untuk belajar dan terbuka terhadap saran. Investor perempuan, menurutnya, lebih mau untuk belajar dan meminta saran dari pihak yang dianggap lebih tahu tentang investasi. Dalam sebuah studi, lanjut Iwan, ditemukan bahwa laki-laki cenderung lebih memenangkan egonya untuk tidak bertanya jika menemui sebuah pertanyaan.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali