EDUKASI DUIT: 3 Kepastian Dalam Uang

Selasa | 18 September 2018


Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia itu luar biasa kayanya. Warisan Indonesia itu adalah tanah dan laut terluas di dunia.  Jarak Indonesia dari Aceh hingga Papua itu setara London, Inggris ke Istanbul, Turki.  Bayangkan. 

Market is where the price is found.  Pasar adalah tercipta ketika ditemukan harga. 

Misalnya dulu handphone saat ditemukan, harganya sampai Rp8 juta. Sekarang harganya sepersepuluh saja.  Ganti smartphone.  Harganya melejit. 

Kembali ke Indonesia, dulu kita mungkin kaget dengan besaran gaji tenaga kerja di Singapura,  Hong Kong,  Taiwan,  Kuwait. Tapi kenapa upah di Indonesia bantet? 

Survei membuktikan zaman old harganya tanah di Kuala Lumpur ya seperti di Indonesia rata-rata Rp20 juta per meter. Sekarang Kuala Lumpur Rp170 juta, lalu di Singapura Rp200 juta, dan Hong Kong Rp600 juta.

Dulu banyak disebut negara-negara maju yang kenyataannya zaman dulu kota seperti Singapura,  Hong Kong,  Taiwan ukurannya segede DKI. 

Sekarang era sistem kapitalis membutuhkan tanah yang segede China,  dengan penduduk sebesar China. Indonesia punya peluang, karena penduduknya besar. Kalau dilihat, harga tanah di New Delhi, India itu lebih tinggi daripada Shanghai, China.  Sekarang giliran Indonesia.

Kenaikan nilai properti di Indonesia itu 1,9 juta kilometer persegi setara Rp100.000 triliun atau setara US$6.000 miliar.

Dana masuk ke Indonesia itu sekarang Rp5.000 triliun.  Itu yang diobok-obok hater speech seolah-olah Indonesia raja utang.  Seolah-olah koruptor BUMN segede tikus sawah.  Ternyata sawah Indonesia itu setara nilainya Rp100.000 triliun kalau digoreng di 300 kota nilainya bisa bengkak luar biasa.

Banyak orang protes indikator ekonomi Indonesia bagus karena direkayasa akuntan.  Loh itu yang selama ini dikerjakan konglomerat supaya masuk dana investor asing. 

Jadi membayangkan Indonesia itu bukanlah nanti kita semua punya memiliki Indomaret tidak,  kita tetap PHD Pizza Hut delivery tetapi harga tanah di tetangga anda di kota bakal jadi Rp200 juta per meter. Dulu jual tanah dapat kambing,  sekarang dapat sapi sepuluh tahun lagi dapat Mercedes.

Jadi ada tiga kepastian di Indonesia :

1. Harga tanah pasti naik bukan karena apa,  hanya karena harganya di China,  Taiwan,  Hong Kong kemahalan.  Uang pasti masuk ke Indonesia.  Nilainya tunai turun.

2. Bagi nasabah kredit bank mereka semakin rupiah terdesak ya semakin menurun integritas kredit dibandingkan dengan harga properti. 

3. Apalagi bila kredit bank digunakan untuk membeli aset.  Ya aset naik terus kreditnya menurun sendiri karena tekanan rupiah. Double gain.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali