Jadikan Perempuan Bak "Menteri Keuangan" Tangguh

Selasa | 28 Agustus 2018


Bisnis.com, JAKARTA - Perempuan bak “menteri keuangan” dalam keluarga, karena sejatinya pengelolaan keuangan adalah tanggung jawab mereka. Di tangan mereka, uang bulanan yang diterima dari para suami disalurkan untuk keperluan seperti sekolah anak, membayar kontrakan, ataupun kebutuhan keseharian lainnya.

Artinya, perempuan memang pihak yang paling memahami apa yang harus dilakukan saat berhadapan dengan uang. Tidak ada yang sia-sia, apabila uang bulanan tersisa, bisa jadi disisihkan untuk kemudian ditabung.

Perempuan dapat dikatakan sebagai critical economic player di Indonesia, mengingat banyak keputusan ekonomi penting mulai dari tingkat keluarga,lingkungan, hingga negara diputuskan oleh seorang perempuan.

Kendati demikian, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan Sondang Martha Samosir mengatakan, berdasarkan hasil Survei Nasional Otoritas Jasa Keuangan 2016 menunjukan tingkat literasi dan inklusi keuangan pada perempuan masih rendah, yaitu sebesar 25,5% dan 66,2% atau lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki sebesar 33,2% dan 69,6%.

“Kalau menteri keuangan keluarga tak dapat mengatur keuangan hancurlah keluarga itu," jelas Sondang.

Guna meningkatkan literasi keuangan pada perempuan Indonesia, OJK kerjasama dengan beberapa korporasi bidang keuangan seperti PT Visa Worldwide Indonesia (Visa). Melalui program Ibu Berbagi Bijak yang dilakukan sebelumnya, OJK berharap kesukseaan program yang dilakukan Visa dapat terulang kembali bahkan lebih sukses. Dia berharap, hal tersebut dapat berkontribusi meningkatkan literasi keuangan Indonesia yang ditargetkan mencapat 35% pada 2019.

"Kani berharap masyarakat sebanyak 200.000 yang sudah dicerdaskan bisa bertambah berkali lipat," katanya.

Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman mengatakan, melanjutkan kesuksesan kampanye literasi keuangan, Visa bermaksud terus mengasah lebih banyak perempuan, khususnya para ibu agar dapat mengelola keuangan dengan bijak.

"Finansial literasi masih sangat rendah, perempuan dan laki laki masih ada gap, ini sebabnya kami melakukan kampanye khusus untuk perempuan," kata Riko.

Sementara berdasarkan data yang dihimpun Visa, tingkat literasi keuangan perempuan jauh lebih rendah sebesar 25,5%, dibandingkan dengan laki-laki sebesar 33,2%.

Mengusung konsep "train the trainer" program tersebut akan dilaksanakan dari Juli hingga September yang terdiri dari serangkaian lokakarya dan aktivitas online melalui instagram. Program yang akan dibahas seperti membuat anggaran, menabung, dan mengatur pengeluaran yang bijak, hingga kiat-kiat mendapatkan penghasilan tambahan, serta tips keamanan dalam transaksi non tunai.

Untuk itu, melalui program tersebut, pihaknya akan menghadirkan pakar finansial untuk mengajarkan perempuan Indonesia agar mampu mengelola keuangan dengan bijak, serta melibatkan sejumlah wirausaha perempuan untuk membagikan kisah inspiratif dalam mengelola bisnis.

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Departemen Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional Bank Indonesia Pungky P. Wibawa mengatakan, perempuan telah menjadi salah satu sasaran utama untuk peningkatan akses keuangan sebagaimana tercantum dalam Strategi Nasional Inkluisf (SNKI).

“Peningkatan akses perempuan kepada Lembaga keuangan formal yang dibarengi dengan peningkatan edukasi keuangan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga,” kata Pungky.

Dia memaparkan berdasarkan Global Financial Inclusion Index 2018 Bank Indonesia, sebanyak 49% orang dewasa telah memiliki rekening di institusi keuangan formal. Permpuan memiliki pemahaman keuangan yang lebih tinggi dan penyikapan keuangan yang lebih baik, dibandingkan dengan laki-laki.

Pungky mengatakan peluang akses wanita terhadap keuangan sangat tinggi. Sebanyak 39% wanita di Indonesia ingin membuka usaha. hal itu tercermin dengan adanya peningkatan wirausaha wanita dari 14,3 juta orang menjadi 16,3 juta orang. Jumlah pelaku UMKM sebanyak 52 juta, sebanyak 60% UMKM tersebut dijalankan oleh wanita.

Meskipun peluang tinggi, lanjutnya perempuan memiliki sejulah kendala seperti terbatasnya akses keuangan menyebabkan perempuan Indonesia mengandalkan anggota keluarga sebagai sumber keuangan, terbatasnya mobilitas wanita menyebabkan usaha dan kepemilikian usaha formal bergeser pada laki-laki, serta minimnya pengetahuan dan kepercayaan diri akan pengelolaan keungangan.

“Karena itu akses keuangan dan pemberdayaan ekonomi untuk wanita Indonesia belum optimal,” katanya.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, perempuan Malaysia ada di peringkat ketujuh tertinggi dari 27 negara di Asia dalam hal pengelolaan dana. Kebiasaan menabung antara perempuan dan laki-laki di Malaysia cukup setara, yakni 47 persen dan 46 persen.

Dari setiap pengeluaran bulanan, laki-laki di Malaysia lebih besar mengelokasikan dana untuk menabung dari pada perempuan Malaysia, laki-laki 30% lebih besar dari perempuan Malaysia. Sedangkan, dari sisi perencanaan keuangan, sebanyak 32% laki-laki Malaysia memiliki perencanaan, dan 28% perempuan Malaysia yang memiliki perencanaan. Angka tersebut tidak terlalu jauh perbedaannya. Semnetara tingkat melek finansial perempuan Indonesia masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk meningkatkan literasi finansial masyarakat Indonesia.

Untuk itu, salah satu upaya upaya aktif Bank Indonesia antara lain melalui insiatif Gerakan Nasional Non Tunai (GNTT) yang sudah dicanangkan sejak 2014, program penyaluran bantuan non tunai, serta perluasan agen bank dan program pemberdayaan wanita.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali