Orang Kaya Tabungannya Banyak, Benar Enggak?

Minggu | 26 Agustus 2018


Bisnis.com, JAKARTA — Mayoritas orang menganggap bahwa kredit yang disalurkan oleh bank, dananya datang dari simpanan nasabah lias dana pihak ketiga. Ternyata itu konsep dulu.  Pada zaman dulu orang biasa buka tabungan tabanas di kantor pos. 

Sejarah zaman dulu tersebut terukir di pikiran kita. Kita menganggap ada yang kelebihan uang ditabung,  yang kekurangan uang mengambil kredit bank.  Sekarang tidak. 

Sejak 1970, uang tunai tidak lagi dijamin dengan emas.  Sebelumnya uang Anda US$ 20 ya setara dengan emas,  sekarang,  besok dan nanti,  selamanya. Dulu disebut In Gold We Trust.  Kita percaya kepada emas.

Sejak 1970 uang tidak lagi diikat dengan emas.  Jadi misalnya Anda dapat kartu kredit dengan plafon Rp50 juta artinya seketika bank mencetak uang baru senilai Rp50 juta untuk Anda.

Bank mencatat jumlah uang beredar bertambah,  dikumpulkan data kredit bank tersebut menjadi angka suplai uang beredar,  yaitu uang kartal uang tunai bergambar Soekarno Hatta dan uang giral. Kredit bank tersebut tergolong uang giral. 

Lalu kenapa pelajaran ekonomi dari dulu 1950-an sampai 1960-an sudah diajarkan konsep ini uang kartal,  dan uang giral.  Kenapa sekarang beda? 

Bedanya adalah dulu pada 1960-an sampai 1990-an adalah rezim moneter terbatas.  Sejak 2008 Indonesia ikut menjadi anggota G20, maka sekarang beda rezim moneter bertambah. 

Coba cek grafik suplai uang beredar di Indonesia sejak 10 tahun lalu bertambah Rp50 triliun setiap bulan. Sebelumnya pada 1990-an uang beredar di Indonesia di bawah Rp1.000 triliun sekarang sudah mencapai Rp5.500 triliun. 

Jadi setiap bulan ada penanbahan kredit bank raksasa senilai Rp50 triliun setiap bulan.  Setiap menit ada kredit baru sekitar Rp2 miliar diberikan kepada nasabah kredit bank.

Efek dari rezim moneter berkembang ini adalah menurunnya daya beli konsumen.  Ya karena tergerus inflasi maka consumer price index meroket.  Dibandingkan 1980, indeks CPI sekarang setara 140 artinya uang Rp1.000 pada 1980 setara dengan uang Rp140.000 sekarang.

Jadi dulu Anda nonton bioskop bayar Rp500 beli belanja ke pasar bawa Rp2.000 saja.  Bakso bayar Rp200 saja.  Uang jajan dulu zaman ABG angkatan babe gue cukup koin perak Rp100 gambar cendrawasih. 

Nah muncul pertanyaan, mengapa seseorang menjadi kaya?  Karena kredit banknya banyak. 

Masih banyak orang percaya bahwa orang kaya tabungannya banyak.  Tidak.  Orang kaya mengakses modal kredit bank raksasa. 

Zaman dulu bos saya konglomerat bilang sudah 14 tahun lamanya perusahaan tidak punya utang bank.  Itu dulu sekarang bos juga bingung keponakannya beli Lamborghini dan tanda tangan kredit bank Rp10 triliun.  Paman,  papa,  mama,  kakek Ikut tanda tangan kredit bank raksasa. 

Zaman old seseorang kerja di agen show room sepeda motor memiliki cash uang banyak.  Itu dulu.  Sekarang mereka tiga generasi mengajukan kredit bank agunan show room dan semua rumah-rumahnya untuk menjadi bank garansi kredit penjualan principal pabrik motor. 

Jadi sistem kapitalis rezim uang bertambah terus ini menjadikan bisnis sekarang membentuk rantai kartel.  Coba Anda bikin usaha rumah pemotongan hewan (RPH) potong ayam sendiri,  segera RPH Anda digeruduk massa.  Karena kartel Ayam.  Harga daging Ayam naik terus, mengapa?  Karena peternak ayam, termasuk ayam potong dan ayam petelur diikat oleh kredit bank dengan jaminan tiga generasi. 

Ada orang yang ingin merasa gajinya tidak ketinggalan dibandingkan dengan gaji manajer di luar negeri.  Sehingga dia meminta untuk ditugaskan di luar negeri sebagai ekspatriat.

Namun survei membuktikan kecuali Anda ditugaskan di negara berkembang,  menjadi ekspatriat di negara maju,  uang gaji pun habis untuk biaya disana. 

Orang Eropa merasa bahwa disana semuanya golongan menengah,  tidak ada yang bisa kaya,  karena pajak yang sangat tinggi dan biaya asuransi juga tinggi. 

Zaman old Nenek mengatakan hati-hati dengan utang.  Awas jangan banyak utang.  Jadi hidup seolah-olah dikurung tidak bisa bebas,  hidup merdeka.  Sementara orang kaya luber karena punya cadangan dana kredit bank.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali