Menangkal Ancaman Kejahatan Siber Saat Transaksi

Kamis | 26 Juli 2018


Menangkal Ancaman Kejahatan Siber Saat Transaksi

ilustrasi

Seiring dengan peningkatan penggunaan kartu kredit ataupun alat transaksi non-tunai lainnya, tak dapat dipungkiri peluang cybercriminals juga semakin besar. Tentu, fenomenan tersebut sangat merugikan, bukan hanya pihak pemakai, namun juga pihak vendor.

Berdasarkan Nilson Report, kerugian akibat penipuan transaksi non tunai alias cybercriminals di seluruh dunia telah mencapai US$21 miliar atau lebih dari Rp300 triliun pada 2015. Nilai kerugian terus meningkat dan diperkirakan mencapai US$31 miliar pada 2020.

Pastinya Anda tidak mau menjadi korban cybercriminals berikutnya, bukan? Pada umumnya transaksi kartu kredit sangat sederhana, melalui dua proses yakni otorisasi (authorization) dan penyelesaian (settlement). Oleh karena kederhananaan tersebut berdampak pada timbulnya penipuan.

EVP Head of Wealth Management & Retail Digital Business Commonwealth Bank Ivan Jaya mengatakan kecanggihan teknik statistik dan probabilistik dapat mendeteksi penipuan dengan baik, ditambah dengan teknologi masa kini. 

“Seiring dengan implementasi EMV Chip Card yang melengkapi kartu kredit dan kartu debit dengan chip, serta teknologi untuk melakukan otentikasi transaksi sebenarnya penipuan kartu kredit bisa ditekan,” kata Ivan.

 

MODUS KEJAHATAN

Kendati demikian, lanjutnya, tetap saja ada beberapa jenis modus patut diwaspadai. Modus yang dimaksud di antaranya, pertama, pemberian hadiah palsu. Pada modus tersebut penipu biasanya akan menghubungi melalui telepon atau surat elektronik lalu memberikan hadiah namun meminta data-data diri.

Kedua, dengan dalih menawarkan kartu kredit baru, penipu meminta data-data sensitif seperti alamat, nomor telepon, nomor kartu kredit yang sedang digunakan beserta dengan PIN. Hal tersebut bisanya disebut dengan phising.

Ketiga, bertransaksi di mesin EDC palsu, misalnya bertransaksi di online shop yang kurang kredibel, atau mengunduh aplikasi atau tautan palsu yang memberikan kesempatan penipu untuk mengambil data kartu kredit.

Ivan menyebut bahwa di Amerika Serikat, ada peningkatan card-not-present (CNP) fraud atau penipuan di mana fisik kartu kredit tidak perlu ditunjukan di merchant misalnya melalui telepon atau internet.

Akan tetapi, dengan adanya chip card dapat membantu memonitor perilaku transaksi pemilik kartu, termasuk jam, koordinat geografis sehingga mengetahui peluang transaksi yang berupa penipuan. Seluruh kalkulasi dilakukan untuk meminimalisir penipuan. Biasanya hal tersebut ditandai dengan adanya pesan kepada pemilik kartu untuk menginformasikan transaksi yang tidak umum.

Perusahaan kemudian memiliki hak untuk memblokir kartu tersebut atau melakukan investigasi dengan menghubungi pemilik kartu kredit.

Untuk mengantisipasi penipuan kartu kredit, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, jangan pernah memberikan kartu kredit kepada orang lain, termasuk fotokopi. Apabila sedang bertransaksi tidak perlu terburu-buru, pastikan kartu hanya digesek sekali oleh kasir.

Kedua, memiliki PIN kartu kredit, dan di saat bertransaksi menggunakan PIN, jangan sampai terlihat orang lain.

Ketiga, tidak perlu tergiur hadiah, jangan berikan data sensitif Anda ke orang yang tidak dikenal. Bank akan selalu memberikan perkembangan terkini mengenai promosi yang sedang berlangsung.

Data-data penting yang harus dijaga kerahasiaannya adalah nomor CVV yang merupakan tiga angka di belakang kartu kredit, yang banyak digunakan untuk bertransaksi online; nama ibu kandung; dan 16 digit nomor kartu kredit.

Apalagi, berdasarkan riset yang dilakukan oleh perusahaan penerbit konten digital Brilio.net dan JakPat Mobile Survey, menemukan mayoritas milenial Indonesia yakni sebesar 59%, khususnya kelas menengah ke atas lebih menyukai transaksi non tunai.

Apabila ditelaah lagi, kartu debit menjadi alat pembayaran non tunai yang paling disukai milenial sebesar 50%, diikuti uang elektronik sebesar 33% dan kartu kredit 17%. Riset tersebut dilakukan terhadap 1.020 milenial berusia 21-37 tahun di 34 kota besar di Indonesia.

Sementara itu, dilihat dari penggunaan kartu kredit, mayoritas pengeluaran kartu kredit milenial tersalurkan untuk produk elektronik sebanyak 27%, makanan dan minuman 25%, menyususl pembayaran perjalanan wisata sebesar 23%, dan pembelian produk fesyen sebesar 15%. Berdasarkan hasil riset tersebut menunjukkan bagaimana gadget, liburan, nongkrong, dan juga fesyen menjadi esensi dalam gaya hidup milenial. 

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali