Kredit Produktif Bank Sulselbar Jangkau Nelayan Lewat Pola Klaster

Kamis | 08 Februari 2018


Bisnis.com, MAKASSAR - Bank Sulselbar mengintensifkan sinergitas dengan TPAKD Sulsel guna memacu penyaluran pembiayaan ke sektor perikanan dan kelautan melalui skema klaster pada daerah yang menjadi sentra sektor kemaritiman tersebut.

Direktur Utama Bank Sulselbar Andi Muhammad Rahmat mengemukakan skema tersebut dinilai efektif dalam mendorong pengembanganan kelautan dan perikanan di Sulawesi Selatan termasuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan seluruh stakeholder yang terlibat dalam sektor itu.

Adapun bentuk jalinan sinergitas perseroan dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Sulsel yang dimotori oleh OJK Regional 6 Sulampua itu melalui pembentukan klaster Desa Nelayan Boddia yang terletak di Kabupaten Takalar, Sulsel, yang merupakan sentra perikanan serta komoditas kelautan.

Sekedar diketahui, Boddia merupakan lokasi kick off dari program Jangkau, Sinergi dan Guideline (Jaring) yang diinisiasi oleh OJK pada medio 2015 silam.

Menurut Rahmat, pembentukan klaster Desa Nelayan itu menjadi rangkaian dari pemetaan potensi yang dilakukan perseroan bersama dengan TPAKD Sulsel yang juga berorientasi mendorong tingkat kesejahteraan nelayan atau masyarakat pesisir.

"Skema seperti ini tentu akan kami lanjutkan pada daerah lain di Sulsel, yang mana untuk kajian potensinya melibatkan TPAKD Sulsel atau OJK. Sehingga penyaluran pembiayaan atau pemodalan kepada stakeholder lebih terukur dan tetap menerapkan prinsip kualitas pembiayaan," katanya usai peresmian Klaster Desa Nelayan Boddia, Rabu (7/2/2018).

Dia menguraikan, fasilitasi pembiayaan kepada nelayan di Boddia sebenarnya telah dimulai pada awal 2017 melalui penyaluran pinjaman bagi 272 nelayan setempat dengan total pinjaman yang direalisasikan sebesar Rp13,6 miliar.

Adapun plafon pinjaman yang disalurkan sebesar Rp50 juta per nelayan dengan durasi pengembalian selama setahun, di mana suku bunga yang dipatok level 8% atau lebih rendah dari KUR.

Selain itu, lanjut Rahmat, kualitas pinjaman juga sangat terjaga secara keseluruhan sehingga menjadi acuan bagi perseroan untuk melanjutkan program fasilitasi pembiayaan bagi nelayan dalam skala yang jauh lebih besar.

"Implementasinya melalui pembentukan klaster, apalagi TPAKD dan OJK ikut berperan serta dalam program ini. Sehingga kami yakin bisa lebih bermanfaat secara luas bagi masyarakat Boddia," paparnya.

Pada klaster tersebut, pola edukasi maupun literasi keuangan disertai dengan pemberdayaan masyarakat setempat bakal dipadukan dengan fasilitasi pembiayaan dari Bank Sulselbar sehingga mampu meciptakan kegiatan yang produktif dan berkelanjutan.

Bahkan, pencanangan maupun pendirian klaster Desa Nelayan itu juga menyasar edukasi usia dini agar lebih paham perihal keuangan untuk kemudian membentuk ekosistem masyarakat pesisir yang memiliki tingkat literasi dan inklusi pada level yang optimal.

Secara bisnis, papar Rahmat, klaster tersebut menjadi salah satu instrumen perseroan dalam menyalurkan kredit produktif pada tahun ini, yang mana alokasi secara kumulatif sebesar Rp1,2 triliun.

"Klaster ini menjadi perpaduan CSR kami dengan program pembiayaan produktif kami. Mulai dari edukasi, pendampingan, fasilitasi permodalan bahkan untuk nelayan kami berikan asuransi untuk setahun," ucapnya.

Menurut dia, besaran suku bunga yang dipatok melalui klaster tersebut sangat memungkinkan bisa sama atau bahkan lebih rendah dari KUR pada tahun ini yang berada pada angka 7%.

Dalam kesempatan sama, Kepala OJK Regional 6 Sulampua Zulmi mengatakan pola sinergitas dengan Bank Sulselbar melalui pendirian klaster Desa Nelayan Boddia bakal diterapkan pada beberapa daerah lainnya di Sulsel sesuai dengan potensi masing-masing.

Adapun untuk pemetaan potensi daerah, lanjutnya, melibatkan pula Universitas Hasanuddin Makassar sehingga pembentukan klaster bisa lebih terukur dalam kerangka mendorong perekonomian daerah.

Adapun pola demikian diklaim merupakan klaster pertama yang didirikan untuk wilayah kerja OJK Regional 6 Sulampua serta menjadi bagian dari program strategis TPAKD Sulsel guna mendorong tingkat literasi dan inklusi keuangan.

"Pendirian klaster nantinya menjadi solusi bagi perbankan yang selama ini masih cenderung berhati-hati menyalurkan pinjaman untuk nelayan. Karena tingkat resiko yang dipandang cukup tinggi pada sektor tersebut," katanya.

Selain itu, lanjut Zulmi, terdapat pula pendampingan dan pemberdayaan istri nelayan pada klaster tersebut termasuk bantuan permodalan melalui dana bergulir Bank Sulselbar, sehingga lebih komprehensif dalam mendorong tingkat kesejahteraan masyarakat setempat.

"Sehingga saat nelayan pergi melaut, para istri bisa melakukan kegiatan yang produktif secara berkelompok. Ada bantuan permodalan, hingga fasilitasi pemasaran juga," katanya.

Serangkaian hal tersebut dimaksudkan agar peran industri keuangan bisa lebih menjangkau seluruh lapisan masyarakat terkhusus masyarakat pesisir yang selama ini relatif kurang dilirik oleh industri.

 

Sumber: sulawesi.bisnis.com


 Kembali