Kolaborasi Dimulai dari Level Kecil

Senin | 22 Januari 2018


Kolaborasi Dimulai dari Level Kecil

Goenardjoadi Goenawan | Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Kadang memang sulit membuat diri terbuka terhadap kesempatan. Rasanya memang hidup sudah saling mengimpit.  Kalau baru 6 bulan kita ditekan,  masih bisa berontak tetapi setelah 5 tahun hidup begini-begini saja, mau bagaimana caranya lagi?

Uang itu kekuasaan.  Kekuasaan itu melindungi kekuasaannya sendiri.  Coba lihat komandan peleton,  komandan kodim atau kapolres,  enggak mungkin membuka kekuasaan nya bukan. Rumahnya dijaga ketat,  tamunya dijaga ketat.  Pergi ke mana dirahasiakan.

Kalau kita mengharap kekuasaan, ya sampai lebaran kuda kita tidak kebagian.

1. Kekuasaan itu seperti utang.  Kita bisa utang bila kita sudah menanam budi,  kira-kira utang budi menjadi jalan menembus kekuasaan. Bila kita tidak pernah menanam kebaikan ya kita tidak bisa menembus jalan.

 

2. Kekuasaan itu kolaborasi.  Misalnya pengembang Meikarta yang raja developer butuh media untuk kolaborasi.  Oleh karena itu kekuasaan timbulnya dari kolaborasi.

Bila Anda tidak bisa utang,  karena tidak menanam budi baik,  dan tidak bisa kolaborasi mungkin diperiksa tingkat egoismenya dulu.

Kolaborasi tidak mesti dengan yang lebih tinggi.  Memang kolaborasi dengan tingkat atas mempercepat hasil namun sesungguhnya kolaborasi dimulai dari level kecil.

3. Ukurannya kolaborasi itu bukan reward bukan profit bukan keuntungan bukan hasil. Ukurannya kolaborasi kekuasaan adalah gratitude.  Bila tanpa rasa bersyukur,  itu hubungan tidak akan membuahkan kekuasaan.

Seringkali pula kita mendengar, mengapa seorang pensiunan profesional jatuh miskin di saat tua?  "Saya rencana ingin pensiun dipercepat!"

Tapi malah ada yang bilan, "Saya malah ingin pensiun diperpanjang 3 tahun lagi."

Demikian curhat beberapa teman direktur.  Tapi sebanyak 80% profesional yang ingin pindah kuadran jadi gagu? Mengapa? 

1. Professional tidak dapat mengidentifikasi power kekuasaan yang melekat pada dirinya dan mana yang melekat pada perusahaan. 

Sehingga setelah melepaskan jabatan,  misalnya seperti mantan Kapolri walaupun jenderal banyak yang tidak siap bahwa kekuasaannya melekat pada jabatan. 

Kekuasaan itu seperti uang yaitu #current atau arus listrik.  Anda bayangkan kekuatan listrik pada colokan PLN,  bilamana PLN mati, colokan power listrik nya ya bodong.  Walaupun perusahaan sebesar gajah,  bila colokan power tidak tersambung PLN saat mati lampu,  ya arus listriknya tidak ada. 

2. Anda pikir dengan gaji super tinggi biasa dikerubuti orang,  maka Anda bisa mempertahankan kekuasaan saat pensiun.  Mungkin bila Anda suka traktir teman ada yang mengerubungi Anda tetapi bukan berarti kekuasaan Anda nyambung ke PLN. 

 

3. Jadi suatu saat Anda paham bahwa kekuatan power Anda bukan lagi nyambung kepada PLN perusahaan.  Namun tergantung dari orbit gerak anda seperti gaya tarik gravitasi bulan mengorbit pada bumi dan ikut perputaran bumi dan matahari semesta alam. 

Uang adalah kekuasaan,  kekuasaan butuh arus bergerak.  Bila uang Anda diam saja, di deposito maka Anda tidak akan mampu menggerakkan menjadi kekuasaan dan bisnis.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali