Prinsip Sederhana di Era Sekarang

Kamis | 07 Desember 2017


Prinsip Sederhana di Era Sekarang

Goenardjoadi Goenawan | Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Masih banyak orang yang memiliki pandangan tidak masalah hidup sederhana yang penting nanti berkah di akhirat.

Zaman dulu, mungkin enggak apa-apa hidup sederhana. Anda Cuma mengudap singkong rebus bersama keluarga, rasanya sudah enak surga dunia. Tapi itu dulu. Kalau sekarang tentu sudah berbeda.

Sama halnya dengan prisnip uang, pengelolaa uang atau cara mengakses uang.  Apakah beda uang zaman dulu dengan sekarang?

Zaman dulu dipisah antara ekonomi dengan kekuasaan.  Dulu kita hidup sederhana enggak masalah asal jauh dari kriminalitas, residivis, atau cap ‘hitam’ lainnya. Dulu yang ditangkap oleh aparat keamanan paling copet atau pencuri.

Sekarang kekuasaan dipindah ke tangan korporasi.  Pengawasan masyarakat dilakukan oleh korporasi,  setiap hari kita wajib absen atau paling tidak mampir ke Indomaret atau Alfamart untuk belanja, menata rambut di Rudy Hadisuwarno, atau yang lain-lainnya.

Bila Anda berseragam pabrik, bisa lolos. Pabrik artinya Anda menjadi karyawan, punya pendapatan tetap. Bagi yang tidak kemana-mana,  bagaimana bisa menyelesaikan kewajiban setor angsuran motor di FIF, Adira, dan lainnya.

Jadi apakah konsekuensi hidup sederhana sekarang?

1. Artinya kita menanggung beban cost of money,  bunga kartu kredit, kredit tanpa agunan, yang besaranyya bisa 10 kali lipat lebih tinggi daripada yang memiliki agunan. Artinya kita membeli semuanya dengan harga 10 kali lipat lebih tinggi bila dicicil dengan kartu kredit.

Apalagi bila banyak yang tercekik bank desa,  shark loan,  lintah darat.  Di Singapura orang yang bekerja untuk lintah darat ditangkap polisi. Di Indonesia masih berkeliaran.

Kita perlu menjelaskan arti kekerasan finansial.  Tindakan debt collector,  penyitaan,  begal,  perampasan sertifikat itu perlu dilindungi.

2. Sehari-hari kita hidup secara sederhana tunai.  Gaji bulanan habis untuk kebutuhan pokok.  Sedangkan orang kaya memperoleh kredit properti.  Kenaikan harga properti lebih tinggi 20% daripada inflasi,  Sedangkan uang mereka dibiayai oleh kredit bank.  Alhasil spekulan properti memperoleh capital gain.

Artinya uang tunai yang kita pegang sehari-hari menyusut nilainya dibandingkan dengan properti.

Zaman dulu orang takut inflasi,  devaluasi,  dan buble crash. Itu dulu,  sekarang bisnis properti zonder rambu-rambu batas kecepatan.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali