Merangkul Jaringan Ekonomi Mikro

Jum'at | 17 November 2017


Merangkul Jaringan Ekonomi Mikro

Goenardjoadi Goenawan | Bisnis.com

JAKARTA — Saya tertarik dengan penjelasan Wakil Presiden Jusuf Kalla soal kebangkitan ekonomi masyarakat. Wapres sempat bercerita bagaimana Gojek berkembang, mulai menggeser ojek pangkalan.

Orang pesan barang sekarang melalui layanan online. Hal itu bisa menggerus pasar konvensional, orang jualan baju di gerai-gerai bisa turun omzetnya. Namun, sisi lain, keberadaan online itu membuat bisnis logistik juga bisa tumbuh.

Kira-kira begitu pandangan Wapres Jusuf Kalla yang saya tangkap.

Lantas, saya coba melihat Singapura. Di negara tersebut, bisa jadi 60% penduduknya memiliki usaha kuliner. Kelasnya pun rata-rata food court atau kedai. Muncul pertanyaan lagi, sebenarnya apa akar permasalahan tersendatnya ekonomi masyarakat? 

1. Coba kita bereksperimen di setiap pesantren modern ada mini market atau toko koperasi. Kenapa kok jaringan 10.000 pesantren ini tidak bisa mengelola seperti jaringan Alfamart atau Indomaret?  Atau paling tidak, mengapa Alfamart tidak merangkul jaringan toko koperasi pesantren.

Ada yang mengatakan karena toko koperasi pesantren tidak memiliki modal. Belum tentu,  pemerintahan telah menyediakan modal kerja melalui kredit usaha rakyat (KUR) kepada mereka.  Tetapi tetap jalur perdagangan distributor tidak bisa menembus mereka.

2. Pertanyaan ini menjawab akar masalah jalur perdagangan distributor.  Mengapa distributor tidak memberi kredit kepada toko retail tradisional?  Padahal distributor setiap hari menawarkan kredit kepada jaringan toko grosir. 

Permasalahan utama jalur perdagangan adalah plafon kredit atau term pembayaran. Jaringan grosir seluruh Indonesia terbentuk selama ratusan tahun. 

Coba lihat,  beberapa kali terjadi kerusuhan pembakaran toko dan ruko di kota besar beberapa ratus ruko hangus tetapi jaringan plafon kredit distributor tidak goyah jalan terus. 

Jaringan distributor besar itu dimulai dari PBF atau pedagang besar farmasi zaman Belanda sampai sekarang menjadi jaringan distributor obat, kosmetik,  dan makanan kemasan. 

3. Mungkinkah saatnya kita praktik perdagangan distributor menembus jaringan koperasi pesantren,  sebagai sarana belajar.  Ini membutuhkan kreativitas,  mungkin bisa dimulai dengan DKI dan Jabar Banten.
4. Pemerintah bisa mulai meningkatkan level usaha jaringan Markobar misalnya bisa dilatih menjadi pusat grosir tepung terigu sekaligus menjadi bakery baking center yang pernah diusahakan Bogasari.  Bila jaringan markobar bisa mampu melewati kredit toko dari pemerintah dioper kepada pabrik terigu. 

Bila sudah berhasil ditunjuk jaringan kebab atau yang lain menjadi pusat grosir mie ayam,  bubur ayam,  atau bakery roti.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali