Uang Adalah Alat Tukar Berkat

Kamis | 02 November 2017


Uang Adalah Alat Tukar Berkat

Goenardjoadi Goenawan | Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Uang adalah alat tukar yang mengukur berkat Tuhan. Pendapat ini mungkin benar,  masalahnya untuk mendeteksi berkat Tuhan itu darimana? 

Kita tahunya ada orang yang diberkahi kekayaan begitu besar, namun di sebelahnya ada orang yang sangat menderita,  berkekurangan.  Mengapa begitu?  Akses kepada berkat Tuhan itu melalui dua hal petunjuk yaitu damai dan mengampuni.

Kok tahu, tahu darimana, Pak? Itu dari petunjuk yang diajarkan Tuhan, assalamualaikum warahmahtulahi wabarakatuh. Berkat Tuhan untukmu,  salam damai dan rahmat pengampunan Tuhan. 

Yang menjadi blunder adalah asumsi pengampunan Tuhan itu dianggap sebagai hubungan langsung dengan Tuhan.  Namun bila ditelaah lebih dalam,  maksudnya berkat Tuhan itu adalah bagaimana sikap kita mengampuni orang lain. 

Nah persepsi kita adalah mengampuni itu kepada orang yang lebih rendah,  lebih miskin.  Karena orang kaya lebih berada lebih mampu memiliki segalanya.  Nah di situ kadang saya merasa sedih. 

Konsep mengampuni yang diajarkan Tuhan adalah kita juga mengampuni orang kaya. Disitulah letak rahasia hidup.

Pak mosok kita mengampuni orang kaya,  bukan terbalik? 

Tidak. Tidak terbalik. Bila Anda cukup ikhlas, Anda dibukakan pintu iba, Anda melihat orang kaya butuh pertolongan Tuhan. 

Ada dua jenis doa keinginan orang kaya.

1. Mereka berdoa ingin kemenangan.  Nah bila Anda rektor universitas,  dan ada rencana pembukaan kompleks baru cabang universitas anda, mungkin Anda bisa mengabulkan doa teman orang kaya tadi. 

Orang kaya berdoa ingin kemenangan.  Anda beritahu supaya membeli tanah di sebelahnya rencana cabang universitas tadi. Otomatis doa mereka terkabul bukan.

2. Mereka ingin bisa mengobati sakitnya dikhianati. Kebahagiaan orang bukan diukur dari berapa jumlah miliknya.  Namun berapa jumlah miliknya yang hilang. 

Ada seorang distributor yang omzetnya puluhan miliar. Setiap hari yang dia urusi hanya tagihan macet.  Customer yang tidak membayar.  Berapapun jumlah tagihan macet,  menjadi penyesalan hidupnya. 

Motivasi yang paling sulit dirasakan adalah gratitude,  rasa bersyukur.  Tanpa rasa bersyukur hidup kita terasa hampa,  kosong dan selalu haus kemenangan.

Oleh karena itu orang kaya semakin bersikap tidak bisa berterima kasih dan mengukur segalanya dengan uang.

Orang kaya itu seperti orang yang suka minum soft drink,  semakin lama semakin sering haus.  Akibatnya jumlahnya konsumsi gulanya naik, semakin dia haus akhirnya diabetes.

Banyak orang korban haus kemenangan tersebut namun untuk sembuh sebenarnya dia harus diet pantang minuman manis. 

Lah,  dia haus kemenangan,  seperti maniak begitu,  bagaimana bisa diet kemenangan?  Hal yang mustahil.  Selama mereka tidak mau mengalah,  tidak bisa berkorban, sacrifice bahkan kepada pasangan sendiri maupun kepada saudara kandung,  maka dia sulit sembuh. 

Tapi ada pengalaman menyembuhkan penyakit orang kaya ini, dan reward-nya tentu dibayar dengan harta.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali