Ekonomi Lesu atau Migrasi Belanja?

Senin | 07 Agustus 2017


Ekonomi Lesu atau Migrasi Belanja?

Goenardjoadi Goenawan | Bisnis.com

JAKARTA — Saya mengutip sebuah pernyataan dari Ketua Tim Ahli Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sutrisno Iwantono. Dalam badan berita, dia mengatakan bahwa daya beli masyarakat saat ini patut menjadi perhatian pemerintah.

Sebab di tengah ekonomi yang bisa tumbuh baik pada angka 5%, namun sektor ritel terbukti masih lesu. Padahal, sektor ritel erat kaitannya dengan masyarakat kelas menengah-bawah yang mendominasi jumlah penduduk Indonesia.

Logika saya, bila daya beli konsumen menurun tetapi pertumbuhan ekonomi bagus bisa sampai 5% berarti ada perpindahan belanja konsumen menjadi sektor lain.  Inilah rahasia sebenarnya kapitalisme,  yaitu secara umum memindahkan kekayaan kepada pemilik aset properti.  

Kok begitu?

Coba perhatikan pada era 1990-an, karyawan atau pegawai memiliki cicilan rumah tipe menengah rata-rata mungkin Rp600.000 per bulan.  Kalau sekarang, barangkali karyawan cicilan rumahnya antara Rp5 juta—Rp6 juta per bulan. 

Otomatis dana masyarakat masuk ke sektor properti semakin besar,  dan otomatis menyedot daya konsumen. Sampai kapan? 

Selama sistem kapitalisme masuk merangsek Indonesia keadaannya, secara umum begini gambarannya.  Konsumen kelas atas semakin kaya dan imbasnya sekarang banyak security,  satpam bekerja rangkap alias double job. Karyawan Mc Donald dan Dunkin Donuts ke depan harus kerja double job.

Perhatikan sekeliling Anda sekrang, maraknya transportasi berbasis online juga mengundang rekan-rekan kerja untuk ikut mencari tambahan penghasilan.

Bagaimana cara kita menyikapi fenomena serbuan kapitalisme ini?  

1. Bisakah kita menghidari serbuan kapitalisme?  Tidak.  Kita tidak bisa lari dari serbuan kapitalisme,  jangankan Indonesia,  negara sebesar Russia dan China masuk ke dunia kapitalisme. 

2. Apakah kita bisa menghambat kapitalisme?  Indonesia bersyukur tanpa sadar dihambat dari kapitalisme.  Misalnya larangan minuman alkohol.  Secara tanpa sadar membuat bangsa eropa sedikit sadar bahwa Indonesia bukan seperti negara lain. 

Keberadaan bank syariah secara tanpa sadar menghindari spekulasi, bunga uang. Sedikit banyak masih ada orang yang menyimpan emas. Ini lebih protektif daripada kartu kredit,  misalnya.  

Jangan sampai ekonomi berbasis kapitalisme mengakibatkan over supply properti seperti yang terjadi di China. Negara itu kelebihan suplai apartmen sebanyak 64 juta unit, akibatnya banyak yang tak terserap karena mahal dan menjadikan beberapa kota hantu. 

3. Dengan demikian kita diberi tenggang waktu ketika akhirnya boom properti terjadi lagi, kita lebih siap dengan segera mengambil peran sedini mungkin dari pesta bubbleproperti.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali