Uang Dan Filosofi Hubungan

Kamis | 02 Maret 2017


Uang Dan Filosofi Hubungan

Goenardjoadi Goenawan. | Bisnis

Dalam kehidupan, mengenali uang itu bisa dipikir melalui hal-hal yang mendasar.

Uang adalah sebuah hubungan interaksi relationship. Misalnya ada orang yang ingin jual rumah, ada orang ingin beli rumah, hubungan interaksi tersebut adalah dasarnya uang.Karena sifatnya adalah hubungan, maka hubungan tersebut adalah mengikat.

Misalnya hubungan dengan atasan, otomatis mengikat. Bila kita ingin merdeka, jangankan dengan atasan, dengan orang tua sendiri juga ogah memperhatikan perkembangan dalam hidup.

Banyak pasangan baru ingin merdeka. Pikiran anak muda sekarang menjadi dewasa artinya bisa hidup terlepas dari dukungan orang tua. Belum tentu ini benar.

Uang juga adalah kekuasaan, sehingga sifatnya kekuasaan itu mengikat. Misalnya anda naik jenjang manajemen menjadi manajer, direktur. Nah ketika anda menjadi BOD (board of directors) atau dewan komisaris, ada ikatan notaris status kepemilikan anda dalam perusahaan. Itu sebuah ikatan.

Bila anda memahami konsep ini, maka hubungan relationship anda dengan pihak sekitar otomatis menjadi bibit kekuasaan. Misalnya anda diam saja, anak-anak menjadi dewasa, bukan. Anda punya saham terhadap anak-anak. Bila pikiran kita menafikan hubungan ikatan, mungkin kita sudah tercerai berai bila tidak mengikat hubungan, seperti istri muda, istri siri hubungan menjadi kacau balau.

Hubungan persahabatan pun demikian. Ada sebuah ikatan yang menjadi bibit kekuasaan diantara sahabat. Namun ada yang berprinsip menafikan hubungan antara sesama manusia, tidak boleh mengandalkan pertolongan manusia, melainkan harus menggantungkan kepada Tuhan. Mungkin secara kejiwaan, spirit keikhlasan itu benar tetapi tetap ada sebuah ikatan yang menjadi bibit kekuasaan diantara sahabat.

Ada strata hubungan interaksi pada kelompok tertentu. Hubungan dalam keluarga yang sangat mengikat sehingga estafet hubungan bisa berkelanjutan antar generasi dan menjadi bibit kekuasaan.  Dengan demikian, jalan terbuka bagi generasi penerus untuk menjalin hubungan dengan tetua, paman, aa, teteh, dan bibit relationship bisa berlangsung lama kemudian menjadi sebuah pohon kekuasaan.

Bagi kelompok lain, mereka kehilangan trust relationship. Hubungan interaksi sebatas manis, ikatan lemah bersifat saling menguntungkan belaka. Hasilnya kehidupan semakin kering, seperti tanah tandus.

Ibarat buah mangga, uang bisa dinikmati dimakan atau ditanam jangka panjang menjadi bibit kekuasaan. Inilah rahasia sebenarnya hidup adalah pertukaran dengan hubungan mendalam membuahkan pohon kekuasaan.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali